Uncategorized

Mewahnya “Aesan Gede” Yang Penuh Makna – Pakaian Adat Khas Sumatera Selatan


Aesan Gede merupakan pakaian adat Palembang, Sumatera Selatan. Aesan Gede yang diartikan sebagai hiasan kebesaran ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yang menunjukkan keagungan, kemewahan, dan keanggunan.

Pakaian adat ini dibuat dari tenunan kain songket yang didominasi oleh warna merah dengan benang emas yang mencerminkan kemewahan, sesuai dengan citra kerajaan Sriwijaya zaman dahulu yang disebut sebagai Swama Dipa atau Pulau Emas.

Pakaian adat Aesan Gede biasa dijumpai pada acara pernikahan atau munggah. Busana pengantin wanita Aesan Gede terbagi empat bagian yaitu, kepala, badan, tangan, dan kaki, yang mana pada masing-masing bagian memiliki filosofi tersendiri.


Pada bagian kepala terdapat Bungo Rampai yang bermakna manusia harus menutup aurat pada lawan jenis yang bukan muhrim. Juga terdapat Gandik yang terbuat dari kain beludru warna merah, berbentuk seperti ikat kepala dengan ornamen diatasnya memberi makna ketenangan hati dan pikiran. Tebeng Melu (pada pria maupun wanita) yang berbentuk bola-bola warna-warni yang dirangkai dan dipasang disamping telinga bermakna manusia yang harus menjaga pandangan.

Gelung Malang yang merupakan gelungan rambut melengkung membentuk garis horizontal memberi makna bahwa perempuan palembang merupakan perempuan yang anggun, rapi, dan mempunyai rasa tenang dalam menghadapi sesuatu. Selain itu juga terdapat Kesuhun yang bermotif cen jalan kelahiran, dan dianggap sebagai penghargaan kepada wanita sebagai sumber kehidupan. Dan terakhir ada Kelapo Standan yang berbentuk segitiga sama kaki, terbuat dari emas dengan hiasan tujuh tangkai bunga teratai memberi makna pikiran, perasaan, penglihatan, kebijaksanaan, kesadaran, kebesaran, dan kemurnian.

Di bagian badan terdapat Taratai sebagai penutup dada dengan hiasan bunga teratai yang bermakna pria ataupun wanita harus memiliki kesabaran dan ketabahan hati dalam hal apapun. Juga terdapat Songket yang biasanya menggunakan motif tumpal bermakna keramahan, ketertiban, dan saling menghormati. Dan terdapat Kebu Munggah yang berbentuk kalung tiga susun dengan ornamen bentuk kepala kerbau memberi makna kesuburan dan penolak hal jahat.

Pada bagian tangan terdapat Gelang Gepeng berbentuk bulat tipis berhiaskan bunga dan tumbuhan, Gelang Sempuru berbentuk bulat pipih terbuat dari lapisan emas dan kuningan, Gelang Ulo Betapo berbentuk bulat dengan hiasan kepala ular disekeliling gelang bermakna rasa persatuan, saling menguatkan, dan menjaga kerukunan.
Dan pada bagian kaki terdapat Cenela yang merupakan sandal kedua mempelai pengantin, dengan motif perhiasan dan bersulam memberi makna agama sebagai pelindung diri untuk melangkah kedalam kehidupan.


Untuk busana pria, pada bagian kepala terdapat Kesuhun yang mempunyai dua motif, yaitu motif cemen yang bermakna seorang pria harus mempunyai sifat berani. Dan kedua motif bunga mawar yang bermakna kesucian dan keagungan.

Di bagian badan terdapat Selimpang Sawit yang di selimpangkan dibahu pria maupun wanita, ini memberi makna bahwa pria dan wanita harus sejajar.

Dan terakhir Celano Sutra yaitu celana sutra yang bermotif ukel sebagai simbol lemah lembut.

Letak geografis Palembang yang mempunyai pelabuhan besar sehingga menjadi tempat singgah bagi para pedagang dari luar termasuk jawa, cina, dan arab. Hal itu menyebabkan terjadinya akulturasi dalam berbagai aspek, termasuk dalam baju adat, hal itulah yang secara tidak langsung membuat Asean Gede memiliki banyak simbol-simbol dan makna yang terkandung.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *